• Home
  • /
  • News
  • /
  • Public Squaress in European City Centre
Public Squaress in European City Centre

Public Squaress in European City Centre

Public Squaress in European City Centre

Abstraksi
Pada akhir abad ke 20 sebagiankecil pusat kota di eropa terus berkembang menjadi tempat yang menarik, sementara sebagian besar yang lainnya mendapat kesan sebagai ruang kosong ataupun pulau jalan yang tidak menarik. Hal ini ditunjukkan dengan berkurangnya kegiatan asli masyarakat dan persepsi tentang kenyamanan yang diakibatkan oleh perubahan ruang terbuka menjadi tertutup ditambah dengan komodifikasi kota di mana mereka hanya dipandang sebagai peluang ritel dan komersial. Masyarakat membutuhkan public squares sebagai tempat untuk berinteraksi. Hal tersebutmerupakan manifestasi fisik bahwa tiap komunitas adalah koheren dan bersemangat. Dengan makin diakui bahwa identitas dan place memiliki peran besar dalam memperkuat tata kehidupan dari masyarakat, salah satu bagian upaya pengembalian public squares dan “public realm” dari proses erosi adalah pengenalan ulang dan mengembalikan pusat kota dari kepentingan pribadi untuk kepentingan orang banyak. Telah banyak penelitian yang menyimpulkan kriteria kenyamanan dari ruang terbuka sesuai dengan karakteristik antara Eropa bagian utara dan Eropa bagian selatan. Dan yang terbaru adalah simulasi desain pusat kota yang mencakup geometri, fungsi, pergerakan pejalan kaki dan kondisi lingkungan sekitar. Dari simulasi tersebut dihasilkan sebuah visualisasi bagaimana penggunaan, bentuk ruang dan bagaimana intepretasi rasa dari ruang tersebut sehingga dapat berkontribusi dalam mewujudkan desain kawasan binaan yang berkelanjutan.

Permasalahan
Dari jurnal tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat 3 permasalahan yang terjadi pada public squaresdi pusat-pusat kota di Eropa

  1. Mengapa terjadi penurunan karakteristik dan fungsi pada public squares?
  2. Mengapa public squaresperlu untuk diperkenalkan lagi ?
  3. Bagaimana caranya untuk mempernalkan ulang public squares ?

Dari permasalahan tersebut dapat diidentifikasi masalah-masalah arsitektur pada umumnya dan urban design pada khususnya. Pada tiap permasalahan terdapat perbedaan masalah-masalah yang terjadi dan menyusun perbedaan permasalahan pula. Pada tugas ini hanya akan dibahas satu permasalahan tentang kenapa terjadi penurunan fungsi dan karakteristik pada public squaresBerikut ini adalah penjabaran masalah-masalah yang terjadi pada permasalahan tersebut

  1. Public squares yang menurun karakteristik dan fungsinya

Ruang kota selalu menjadi tempat bagi masyarakat untuk beraktivitas dan berinteraksi. Penggunaannya selalu mendahulukan kepentingan dan keperluan masyarakat banyak daripada kepentingan individu. Oleh karena itu seharusnya kepentingan masyarakat luaslah yang harus selalu didahulukan. Pada Kota-kota di Eropa kegiatan yang dilakukan pada ruang kota ini secara historis merupakan perwujudan dan pola dari kegiatan masyarakat pada awal mereka menetap. Hal itu adalah tempat di mana kerangka kehidupan bermasyarakat dirumuskan dan tempat di mana kegiatan ekonomi berkembang. Terdapat sebuah tema umum di antara para ahli perkotaan, bahwa popularitas kota tertentu sebagian besar berasal dari ruang yang didefinisikan oleh bangunan daripadapendekatan komersial di abad ke 20 di mana bangunan dipandang sebagai artefak yang ditempatkan ke dalam ruang (Alexander, 1987).
Squaresmerupakan ruang kota yang spesial dan disediakan untuk kepentingan umum. Pada awalnya squaresdi beberapa kota Eropa merupakan fasilitas yang dibuat sebagai area pertahanan untuk menahan agresi dari luar. Namun di kemudian hari, dengan bentuk penataan halaman dan estetika yang baik didapatkan nilai lebih dari square sebagai sesuatu hal yang simbolik. Dari semua tipe ruang kota, square adalah yang paling merepresentatifkan nilai-nilai pembentuk masyarakat. Fungsi-fungsi tradisional yang terdapat di squares dapat dibagi sebagai berikut

  1. Fungsi perdagangan, Fungsi yang termasuk dalam kategori ini adalah kegiatan jual dan beli, penyimpanan barang dan manufaktur
  2. Fungsi informasi, Fungsi yang termasuk dalam kategori ini adalah kegiatan penyebaran informasi dan sebagai tempat interaksi masyarakat untuk saling membagi informasi
  3. Fungsi rekreasi, Fungsi yang termasuk dalam kategori ini adalah kegiatan bermain, belajar, tempat untuk beristirahat, makan siang dan mengobrol
  4. Fungsi pertahanan, Fungsi yang termasuk dalam kategori ini adalah pertahanan dangan kegiatan yang termasuk di dalamnya adalah tempat membentuk dan melatih pasukan, dan juga tempat untuk berkumpul pada saat-saat perang dan berbahaya.
  5. Fungsi keagamaan, Fungsi yang termasuk dalam kategori ini adalah kegiatan mencari inspirasi dan wahyu, sebagai tempat berdoa dan juga sebagai ruang terbuka tempat para jamaah berkumpul sebelum melakukan pemujaan atau beribadah bersama.

Masalah
Menurut Krier ( 1997 ), pada akhir abad ke 20 terdapat pemahaman umum bahwa fungsi squares telah dianggap kuno ataupun lokasinya berpindah dan public square diasumsikan sebagai ruang kosong. Hilangnya hal yang simbolis ini sangat disesalkan oleh Gideon (1962). Sehingga timbullah permasalahan Public squares yang menurun karakteristik dan fungsinya.
Masalah-masalah yang membentuk permasalahan penurunan fungsi dan karakteristik pada public squares adalah :
Kendaraan Pribadi yang memenuhi ruang kosong di public squares
Bertambahnya jumlah kendaraan pribadi membuat bertambah pula kebutuhan ruang untuk menempatkan kendaaran tersebut pada tempat yang berdekatan dengan tempat tujuan mereka. Bertambahnya ruang untuk kendaraan pribadi tersebut tidak diimbangi dengan bertambahnya fasilitas dan ruang yang ditujukan sebagai tempat parkir sehingga kendaraan pribadi tersebut menggunakan ruang kosong pada ruang public untuk menempatkan kendaraan mereka.

Public Squaress

Gambar 1.1 Parkir Kendaraan Pribadi di Public squares

Perkembangan jumlah kendaraan yang terdaftar dan beroperasi di eropa dan proyeksi ke depannya dapat dilihat pada tabel berikut :

kepadatan kendaraan di Eropa

Tabel 1.1 Jumlah kepadatan kendaraan di Eropa dan proyeksinya

Dapat dilihat bahwa tingkat kepadatan kendaraan di Eropa bertambah tiap tahunnya sementara diketahui secara umum bahwa luasannya tidak berubah. Dengan bertambahnya kendaraan maka akan bertambah pula kebutuhan untuk parkir. Dan pada akhirnya pengambil kebijakan mempertimbangkan untuk menambah ruang parkir ataupun mengalihfungsikan gedung-gedung menjadi lebih beragam penggunaannya.
Walaupun tingkat kepadatannya bertambah, namun jumlah penduduk di beberapa negara mulai mengalami pertumbuhan negatif.Sehingga masalah spasial akan selesai dengan sendirinya suatu saat nanti. Namun untuk penyelesaian pada saat ini dibutuhkan kebijakan dan desain yang tepat dan berkelanjutan sehingga menjadi lebih menarik dan kembali dikunjungi serta menjadi identitas masyarakat seperti di beberapa kota besar yang sudah terkenal di eropa.

Chamberlain square
Gambar 1.2 Pejalan kakiantara Chamberlain square dan Victoria square

2. Degradasi konsep pelayanan untuk masyarakat

Dengan semakin berkurangnya intensitas interaksi dan semakin berkembangnya kosep kapitalisme dalam kehidupan masyarakat mengakibatkan perubahan cara pandang dari elemen-elemen pembentuk tata kehidupan bermasyarakat. Konsep bermasyarakat dan penggunaan public squares pada saat ini sudah jauh terdegradasi dari beberapa dekade yang lalu sehingga hal-hal tersebut hanya dipandang sebagai peluang ritel dan komersial.

3. Landmark Modern Mulai Mencerminkan Nilai-Nilai Komersialisme

Di kota-kota eropa, penggunaan bangunan di sekitar pusat kota mulai digunakan sebagai kantor dan unit ritel menggantikan bangunan yang lebih mewakili keberagaman dan kehidupan masyarakat yang merupakan identitas kota tersebut . Mal dan tempat perbelanjaan modern mendominasi jalan-jalan kota dan alun-alun. Hal ini mengaburkan fungsi public squares dimana mereka menempati public squares namun dioperasikan dengan cara swasta oleh perusahaan swasta. Beberapa bangunan di public squares yang dipergunakan sebagai adalah

4. Persepsi Bahwa Public squares adalah tempat yang berbahaya

Berkembang suatu persepsi yang berasal dari Amerika serikat, bahwa public squareadalah tempat yang berbahaya dan rawan akan kegiatan kriminal. Menurut Wolley et al( 2004 ) ketakutan terhadap adanya kejahatan dankejahatan itu sendiri dapat menghalangi masyarakat ataupun kelompok masyarakat dalam menggunakan ruang publik, bahkan ruang publik yang baik sekalipun. Persepsi ini menyebar dengan cepat dan masif ke kalangan anak muda dan para pelajar lewat teknologi informasi ataupun melalui doktrinasi dari orang tua kepada anaknya dengan tujuan untuk melindungi mereka dari tindakan kejahatan.

criminal in public
Gambar 4.1Ilustrasi kriminalitas di ruang publik

Kesimpulan
Kesimpulan dari deskripsi tulisan ini adalah bahwa terjadi permasalahan public squares yang menurun karakteristik dan fungsinya. Permasalahan ini dapat dijabarkan sebagai permasalahan

  1. Konteks kegiatan sosial-budaya masyarakat
  2. Definisi spasial
  3. Rekreasi dan kegiatan masyarakat umum
  4. Transportasi dan Logistik
  5. Ranah Publik dan Ranah Privat
  6. Pengambilan keputusan/kebijakan
  7. Sejarah ( History)
  8. Ruang terbuka hijau dan penghijauan
  9. Penegakan hukum
  10. Urban Sprawl
  11. Sosial-Ekonomi masyarakat
  12. View dan Vista
  13. Psikologi Masyarakat

Hal-hal yang terjadi di atas ini adalah akumulasi dari masalah-masalah yang sudah dituliskan di atas. Penyelesaian untuk permasalahan yang terjadi adalah mengidentifikasi masalah-masalah penyebab terjadinya permasalahan kemudian menyelesaikan dengan kebijakan, penegakan hukum yang baik dan juga desain kawasan binaan.

DAFTAR PUSTAKA

  • Alexander, C. (1987) A New Theory of Urban Design. New York: Oxford University Press.
  • Chatterton, P. and Hollands, R. (2002) Theorising urban playscapes: Producing, regulating and consuming youthful nightlife city spaces. Urban Studies 39: 95–116.
  • Corbett, N. (2004) Transforming Cities: Revival in the Square. London: RIBA Enterprises.
  • Giddings,Bob., Charlton,James,. and Horne, Margaret. (2011).Public squares in European city centres. Macmillan Publishers at website ”www.palgrave-journals.com/udi/”
  • Giedion, S. (1962) Space, Time, Architecture, 4th edn. Cambridge: Harvard University Press.
  • Krier, Rob. (1979). Urban Space. Academy Edition. London
  • Leibing, David. (2008). Car ownership in Great Britain. Royal Automobile Club Foundation for Motoring
  • Woolley, H., Rose, S., Carmona, M. and Freeman, J. (2004) The Value of Public Space,
  • Worpole, K. and Knox, K. (2007) The Social Value of Public Spaces. York: Joseph Rowntree Foundation.
  • How High Quality Parks and Public Spaces Create Economic, Social and Environmental Value. London: CABE Space.

jual rumah murah di jogja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top